
Mungkin ada benarnya juga apa yang di katakana Mbah Wo Kucing yang di kutip dalam Kompas”Sebenarnya gerakan-gerakan dalam tari Reog Ponorogo menggambarkan tingkah polah manusia dalam perjalanan hidup mulai lahir sampai mati filosofinya sangat dalam”.
Menurut pandangan saya secara tidak langsung Reog memang merefleksikan tingkah laku masyarakat Ponorogo mesti dari semua yang terjadi tidak terjadi pada semua. Saya melihat dari seni tari dan pergerakannya dalam pagelaran Reog yang di pentaskan pada Grebeg Suro dan Festival Reog di Alon-alon Ponorogo.
Diawali keluarnya Warok Sepuh kemudian di iringi keluarnya para Warok Muda, merefleksikan seberapa waroknya para muda Ponorogo masih tetap menghormati pada yang Sepuh mempersilahkan yang lebih tua duluan dalam segi kemasyarakatannya.
Kemudian para Perempuan yang menaiki Jaran Kepang atau Kuda Lumping dengan gerakannya yang lincah, merefleksikan betapa lincahnya para perempuan-perempuan Ponorogo yang dengan kelincahanya sudah mencapai Luar Negeri menjadi TKW mencari rejeki demi kelurganya.
Kemudian keluarnya Bujang Ganong dengan tari yang rancak dan pecicilan, merefleksikan para Muda Ponorogo yang dengan pecicilanya dengan kreasinya memodifikasi tungganganya dan menngendarainya seperti yg saya lihat di Jalan Suro Menggolo atau Dalan Anyar dengan gaya Free Stylenya.
Kemudian keluarnya Barongan dengan wajah yang garang dan dadak merak dengan bulu yang lembut dan indah dengan gerakanya yang meliuk-liuk, merefleksikan para anggota Dewan di Ponorogo dengan pemikiranya yang meliuk-liuk memikirkan kegarangan masalah demi masalah yang ada di Ponorogo dan dapat menghasilkan pemikiran yang lebut dan indah yang bisa diterima Masyarakat Ponorogo.
Kemudian keluarnya Prabu Klono Sewandono dengan wibawanya memegang Pecut Samandiman dengan gerakan mengayaun-ayunkan pecutnya seperti Orang Angon, merefleksikan Pemimpin Ponorogo yang berwibawa dengan memegang selalu komitmennya dan selalu menghasilkan gagasan-gagasan yang cemerlang sehingga dapat ngengon (memelihara) masyarakat Ponorogo menjadi lebih baik menuju PONOROGO MUKTI WIBOWO.
( sumber foto : dari tugupahlawan.com)





Posted by arifudin on Desember 23, 2008 at 7:20 am
mari lestarikan budaya bangsa
Posted by denologis on Desember 23, 2008 at 1:55 pm
hem,,,benar kang….