“Republik PETRUK”
“Nur urep cahyo wewayangan” mungkin kalimat itulah yang diangkat pada pementasan Teater KOMA, yang bertajuk “Republik Petruk” menceritakan seorang petruk yang menerima titipan sementara wahyu jimat kalimasada dan dengan itu pula petruk memanfaatkan kesempatan itu untuk berkuasa.
Kisah bermula, saat Mustakaweni berhasil mencuri Jimat Kalimasada, Pusaka Pandawa, dengan cara menyamar sebagai Gatotkaca. Srikandi, perempuan pahlawan itu, tak mampu merebut Kalimasada. Pada saat bersamaan, datang satria bagus bernama Priambada. Dia sedang mencari ayahnya, Arjuna. Srikandi sedia menolong dengan syarat: Sang Satria harus merebut kembali Jimat Kalimasada. Priambada bersedia. Maka terjadilah perebutan yang asyik dan seru. Mustakaweni ternyata jatuh hati dan membiarkan Priambada merebut Jimat Kalimasada, meski tetap pura-pura melawan. Karena kerepotan, Priambada menitipkan Jimat Kalimasada kepada Petruk.
Alkisah, ada dua dewa; Kaladurgi dan Kanekaratena, yang memprovokasi agar Petruk memanfaatkan tuah Jimat Kalimasada. “Titipan harus dimaksimalkan, kekuasaan di depan mata, peluang tak bakal datang dua kali.” Akhirnya Petruk tergoda. Dan berkat tuah jimat Kalimasada, Petruk berhasil menaklukkan Kerajaan Lojitengara. Lalu dia diangkat jadi Raja dengan gelar Prabu Belgeduwelbeh.
Maka, terjadilah reformasi politik. Apa saja diperbolehkan. Korupsi, asal tidak ketahuan, oke-oke saja. Dengan lantang Petruk berkata; “Demokrasi yang kureformasi adalah SBY; Serba Boleh Ye..”
Lojitengara makmur, pejabat takut korupsi. Para aparat bersikap baik, dedikatif. KKN dan berbagai penyelewengan, atas nama demokrasi, memang marak tapi terkendali. Prabu Belgeduwelbeh santai saja. Malah dia banyak makan, banyak bernyanyi dan banyak menari. Raja-raja lain yang merasa terganggu dan menyerbu Lojitengara lalu dikalahkan, tidak diperbudak oleh Petruk Belgeduwelbeh, melainkan diangkat sebagai saudara dan direkrut jadi sekutu.
Siapa mampu menggantikan Petruk Belgeduwelbeh? Sebab, nampaknya, kondisi `Serba Boleh Ye’ itu, masih terus berlangsung.
Sebuah kiasan atau sindiran saya sendiri juga kurang tahu tetepi cerita ini bisa diambil sebagai sebuah pelajaran untuk berhati-hati dalam memilih seorang pemimpin, dan menggugah kesadaran kita bahwa untuk memimpin suatu negeri diperlukan seorang pemimpin yang benar-benar memiliki kemampuan dan jiwa kepemimpinan, jangan seperti Petruk yan seenaknya sendiri menggunakan kekuasaanya.
Menjelang pesta demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan memang perlu untuk kita berhati-hati dan waspada setidaknya kita harus tahu dan berfikir siapa orang yang sesuai untuk memimpin negeri ini jangan seperti Petruk .





huehehe rep.Indonesia skrg mirip rep.petruk. Serba Boleh Ye…..
Kalau dinegara kita bukan hanya serba boleh ye…tapi juga..serba antri ye….
salam kenal balik mas
keep our silaturahmi ,,
hidup petruk
Salam kenal kang petruk
salam kenal jg
pak somoroto po udukjo ngaku2 lo…
hahahahaha…..
Indonesia sih negara bebas, bebas korupsi, bebas bebas dan bebas lainnya…
kunjungan dhe….
somoroto moso ra knal q?????
http://sawali.info/2008/12/24/gaya-selebritis-para-wakil-rakyat/